Showing posts with label Balada Pendekar Kucing. Show all posts
Showing posts with label Balada Pendekar Kucing. Show all posts

Friday, 23 December 2011

Balada Pendekar Kucing di Tengah Kota #5

Bismillahirrahmanirrahim

Sudah dua hari ini hujan tidak pernah berhenti turun. Malam dan siang seakan tiada bedanya, selalu gelap oleh mendung yang menutupi langit. Terkadang kilat dan petir diiringi suara guntur yang memekakkan telinga mewakili kemarahan penduduk langit yang tertumpahkan kepada penduduk bumi.

Memang musim hujan tahun ini sungguh berbeda jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, air hujan turun seakan-akan tiada henti-hentinya. Di banyak tempat terjadi banjir, longsor, dan bahkan gagal panen. Para nelayan pun tidak berani pergi melaut, resiko yang mereka hadapi tidak sepadan dibandingkan hasil tangkapan.

Beberapa tahun yang lalu, banyak ahli meteorologi dan geofisika telah memperingatkan cuaca akan berubah. Untungnya Pemerintah kota tidak mengabaikan peringatan tersebut, sehingga penghuni kota tidak merasa khawatir akan dilanda bencana kelaparan. Kapasitas lumbung kota diperkirakan akan dapat mencukupi kebutuhan penduduk selama satu tahun penuh.

Demikanlah permulaan cerita kita dimulai kembali. Hujan yang turun terus menerus ditambah udara yang dingin bagaikan es menjadikan kota sangat sepi, tidak ada yang mau keluar rumah dalam cuaca ekstrim seperti ini. Warung kopi satu-satunya yang terdapat di kota juga tidak sepenuh seperti biasanya, hanya terlihat seorang kakek tua yang duduk-duduk sedang membaca koran terbitan kemarin seraya menyeruput kopi pahit khas kota ini. Sesekali ia juga menghisap cerutunya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya kembali sambil terbatuk-batuk keras. Ah, Kakek tua! Kenapa engkau tidak berhenti saja merokok?

Sayup-sayup si kakek tua mendengar suara seperti hentakan-hentakan kaki, semakin lama suara itu semakin mendekat. Sungguh aneh, pikir si kakek tua, suara apa itu gerangan. Tidak lama kemudian, sebuah pemandangan yang hampir saja membuatnya gila berlalu tepat dihadapannya. Sepasukan rombongan kucing yang berpakaian layaknya serdadu berbaris rapi berjalan dengan membawa persenjataan serba mini. Ada yang membawa machine gun (senjata mesin), pelempar granat, M-16, dan perlengkapan militer lainnya.

Si kakek tua hanya terpaku melihat kucing-kucing tentara ini, sampai beberapa lama setelah kucing-kucing itu hilang dari pandangannya, ia masih diam mematung. Aneh bin Ajaib, tentu saja hal inilah yang pertama kali dipikirkan oleh si kakek tua. Namun sesuai dengan usianya yang telah lanjut, dia mencoba bersikap bijaksana.

“Aduh, mata dan telingaku memang sudah tidak beres lagi! Ini gara-gara aku kebanyakan menonton kartun Tom & Jerry ketika kecil dulu, sekarang aku jadi membayangkan hal-hal yang aneh.” Dia kembali menyeruput kopinya, berharap semoga semua itu hanyalah khayalannya semata.

Di sudut kota lainnya…

“Apa? Budi ada di sana?”

“Benar Komandan.”

“Tidak bisa dibiarkan, dia bisa saja membocorkan kelemahan-kelemahan kita kepada musuh?”

“Ayah, untuk apa kita takut? Dan kelemahan apa lagi yang kita miliki?”

“Dasar anak bodoh! Jangan pernah menyepelekan musuh dan menganggap diri paling kuat. Tiada seorangpun yang tidak mempunyai kelemahan. Ingatlah! Di atas langit masih ada langit!”

“Ma’afkan aku ayahanda!”

“Tapi bukankah yang dikatakan tuan muda tadi ada benarnya, kelemahan apa yang kita miliki?”

“Panglima Satu, kelemahan terbesar yang kita miliki di samping kelemahan-kelemahan lainnya adalah kita tidak mengetahui kekuatan dan kelemahan musuh. Sungguh aneh, bahkan pasukan terlatih kita tidak mampu memperoleh informasi yang lebih. Itu membuktikan lawan kita kali ini tidak dapat dipandang sebelah mata.”

“Ya, sedangkan di pihak mereka terdapat Budi.”

“Nah, itu dia Panglima Satu!”

Sang komandan sejak tadi terlihat gelisah berjalan mondar-mandir ke sana ke mari. Padahal biasanya dia adalah sesosok kucing yang selalu yakin dan tenang dalam melakukan segala sesuatu. Tiba-tiba kucing putih kecil bertanya kepadanya, “Ayah, siapakah sebenarnya Budi yang kalian berdua bicarakan?”

“Dia adalah prajurit terbaik dari pasukan khusus kita. Seekor kucing yang berbakat sepertimu, bahkan sangat mirip denganmu.” Sahut Panglima Satu sambil tersenyum.

“Lho, jadi kenapa kita mengkhawatirkan dia?”

“Karena dia adalah pengkhianat!” Jawab komandan kucing jalanan dengan keras. Raut wajahnya memperlihatkan kebencian yang amat sangat. Bagaimana tidak? Seekor kucing yang melarikan diri karena diduga membunuh guru besar kemudian menghilang, dan tiba-tiba saja muncul di pihak musuh.

“Komandan, kita tidak dapat menuduhnya seperti itu. Belum terbukti dia yang melakukannya!”

“Panglima Satu, keberadaannya di pihak musuh adalah buktinya! Puteh, Pimpin kawan-kawanmu ke bukit di belakang sekolah! Aku mempunyai firasat yang aneh tentang bukit itu.”

“Siap laksanakan ayahanda!”

Kucing putih kecil itu segera meninggalkan ruangan. Hatinya sangat senang karena ia diberi kepercayaan untuk menjalankan sebuah misi. Dia melesat menuju komplek asrama akademi keprajuritan kucing jalanan, tanpa butuh waktu lama ia telah mengumpulkan sekelompok kecil pasukan yang terdiri dari kucing-kucing yang sebaya dengan dirinya. Pasukan ini dibentuk atas inisiatifnya sendiri setahun yang lalu, di bawah bimbingan Panglima Satu yang mendidik mereka dengan keras, menjadikan pasukan ini tidak berada di bawah pasukan senior lainnya. Mereka juga yang akan menjadi generasi penerus pasukan khusus kucing jalanan nantinya.

“Siap Grak! Lancang Kanan Grak!”

“Maju Jalan! Hahaha… Ada apa engkau memanggil kami? Apakah ada latihan mendadak hari ini?”

“Hehe, bukan hanya sekedar latihan. Tapi kita akan menjalankan sebuah misi sungguh-sungguhan!”

“Wow, benarkah? Misi yang beratkah?”

“Tidak untuk saat ini. Kita hanya diperintahkan untuk memantau bukit di belakang akademi.”

“Yah, tidak seru!”

“Tapi aku yakin ayah akan memberikan tugas yang lebih berat kepada kita lain kali. Oke teman-teman, segera bersiap-siap, 10 menit lagi kita berkumpul di tempat ini!”

“Ya Pak Komandan!”

Mereka berpencar, tapi sebentar kemudian mereka telah berkumpul kembali dengan seragam militer ala kucing jalanan. Pakaian mereka seperti model pakaian ringkas prajurit-prajurit cina kuno tempo dulu. Dengan warna yang serba hitam, sangat cocok untuk tugas mengintai. Hanya saja mereka semua masih kecil, sehingga tidak segagah kucing-kucing dewasa yang memakai seragam yang sama.

“Baiklah kawan-kawan, sekarang kita berbagi tugas. Andi dan Kimang selidiki bukit bagian timur, Jayus dan Nujum di bagian utara! Dan aku sendiri akan mengambil jalan memutar”

“Mengapa kita tidak pergi bersama?” tanya salah seekor kucing yang berbadan paling kurus diantara mereka semua. Kimang namanya.

“Ayahku mengatakan dia mempunyai firasat buruk tentang bukit itu. Aku mengambil kesimpulan bahwa bisa saja di bukit itu terdapat mata-mata musuh atau kegiatan mereka lainnya, oleh karena itu kita bergerak ke sana secara diam-diam.”

“Ya, engkau benar. Kalau begitu, ayo berangkat!” Kata seekor kucing lainnya yang mempunyai bulu kuning kemerah-merahan dengan sedikit bercak hitam di sekitar wajahnya. Inilah Nujum, yang paling bersemangat di antara mereka.

“Ayo……!!!!”

Maka berangkatlah mereka secara berpencar. Sebagai kode untuk berkomunikasi mereka sepakat menggunakan tiruan suara kera dengan sandi khusus, mengingat suara kera di hutan bukanlah hal yang janggal sehingga tidak akan menimbulkan kecurigaan dari musuh.

Puteh, Andi, Kimang, Jayus, dan Nujum…
Apa yang akan mereka dapati di bukit belakang sekolah tersebut?

Bersambung…

Balada Pendekar Kucing di Tengah Kota #4

Bismillahirrahmanirrahim…

Banyak orang memprediksikan malam ini akan terjadi badai. Sejak sore tadi langit terlihat mendung, anginnya terasa begitu dingin merasuk tulang. Lampu jalanan telah menyala, tidak terlihat seorangpun yang keluar. Semua pintu rumah tertutup rapat, bahkan sebuah kedai minuman yang biasanya ramai pun kelihatan sepi.

Sayup-sayup terdengar suara dencingan senjata di sebuah rumah tua yang telah lama ditinggalkan pemiliknya beberapa tahun yang lalu. Puluhan kucing memenuhi aula rumah tersebut. Ternyata kucing jalanan memafaatkan keadaan yang sunyi ini untuk berlatih dengan serius, ada yang berlatih pertarungan senjata yaitu pedang dan panah. Ada pula yang berlatih pertarungan tangan kosong.

Senjata-senjata yang dipergunakan oleh kucing-kucing ini agak berbeda dengan senjata-senjata yang digunakan oleh manusia, walau fungsinya tetap sama. Pedang mereka adalah potongan besi yang juga menyerupai pedang, namun pedang tersebut dibuat sedemikian rupa pada kaki depan mereka menyerupai seperti cakar yang panjang, dapat keluar-masuk juga seperti cakar kucing lainnya. Adapun panah mereka lebih menyerupai cakar-cakar yang dapat terbang.

Seekor kucing belang besar mengawasi latihan mereka, perhatiannya tertuju kepada seekor kucing yang sedang berlatih pedang. Kucing itu masih muda, bahkan dapat dikatakan kecil. Bulunya putih bersih, kucing ini sebenarnya sama sekali tidak mirip dengan tampang kucing jalanan. Namun begitu, ketangkasannya dalam memainkan pedang cakarnya tidak kalah dengan kucing-kucing jalanan lainnya yang sudah berpengalaman.

“Tuan Muda, mengapa anda ikut berlatih?” tegur si kucing belang kepada kucing putih.

“Oh, aku tidak ingin hanya duduk diam saja Paman.”

“Tapi Tuan Muda masih terlalu kecil untuk ikut.”

“Paman, mengapa engkau berkata begitu? Apakah engkau menganggapku tidak pantas, kutantang engkau bertarung denganku Paman. Untuk membuktikan pantas tidaknya aku ikut.” Serunya marah. Kucing putih ini memang cepat emosi, juga sedikit sombong, mengingat bahwa ia adalah putra pemimpin kucing jalanan.

“Ah, tidak demikian. Kalau Komandan memang sudah setuju, aku siap mempertaruhkan nyawaku untukmu.”

“Baguslah kalau begitu, Paman ingin menemaniku berlatih?”

“Baiklah. Dengan pedang atau tangan kosong?”

“Pedang.”

Singgg…. Pedang cakar dikeluarkan, keduanya berhadapan dan berdiri dengan dua kaki belakang siap untuk bertarung. Bagaikan dikomando, kucing-kucing lainnya segera mengerubungi sekeliling mereka untuk melihat latihan duel itu. Masing-masing menyemangati jagoannya.

Kucing belang melakukan jurus pembukaan. Kaki depannya yang sekarang menjadi tangan layaknya manusia melakukan gerakan melingkar, melakukan gerak menyembah ke langit. Satu kaki belakangnya ditarik ke depan, badan ditekuk. Kemudian tiba-tiba secara cepat tangannya dihujamkan ke atas lantai. Keramik yang melapisi lantai tersebut retak disebabkan tenaga kucing belang.

Para kucing yang menjagokannya berteriak senang, “Hidup Panglima!”

“Hahaha, kuterima penyembahanmu Paman.” Seru kucing putih seraya tangannya seakan-akan menerima suatu benda dari depan. Selanjutnya diteruskan dengan gerakan “awan putih melindungi langit”. Ia berdiri dengan satu kaki, tangannya ditarik melebar ke samping, pergelangan ditekuk mirip dengan seekor burung.

“Hmm, bagus. Awas serangan!” kucing belang menyerang kucing putih dengan cepat. Pedangnya  bergerak lurus mengincar dada kucing  putih. Aneh, kucing putih tidak bergerak sama sekali. Ia hanya berdiri dengan posisi tadi menatap pedang yang sedang meluncur ke arahnya. Kucing belang menjadi ragu, namun dengan jarak serangannya yang sudah sangat dekat, tidak mungkin lagi untuk menarik serangan. Ia hanya dapat mengurangi tenaganya sedapat mungkin. Semua penonton pun menjadi tegang  dibuatnya.

Hupp… Ketika ujung pedang hampir menempel di dada kucing putih, dengan sebuah lompatan ringan ia melompat ke belakang tanpa merubah posisinya. Pedang terus meluncur ke depan dan berhenti tepat dua senti di depannya. Suasana hening sejenak, siapa yang menyangka kucing putih berbuat senekad itu menerima serangan.

“Tuan Muda, apa yang kau lakukan?” Kucing belang marah.

“Hahaha, Itulah jurus pembukaku yang sebenarnya Paman.”

“Kau memang seekor kucing aktor yang payah. Jangan pernah melakukan itu lagi, di lain kesempatan aku tidak akan ragu-ragu lagi.”

“Tenanglah Paman, just kidding.” Setelah mengatakan itu kucing putih segera menyerang kucing  belang dengan sungguh-sungguh. Barulah duel yang sebenarnya berlangsung. Penonton sibuk memberi semangat, tidak ada yang  menyadari sebuah bayangan gelap menyusup masuk di antara mereka.

“Lapor! Kumbang Dua datang menghadap Panglima Besar.” Seekor kucing hitam tiba-tiba saja berada di tengah arena duel mengejutkan kucing lainnya. Pertarungan dihentikan, kucing belang datang menghampiri kucing hitam tersebut.

“Panglima Besar sedang tidak ada, Panglima Satu yang bertanggung jawab.”

“Kumbang Dua melaporkan kondisi musuh, tidak ada kegiatan yang mencolok dari musuh. Bahkan tidak ada tanda-tanda mereka berlatih tarung. Namun demikian tadi sore seorang anggota kami melaporkan bahwa kucing rumahan memasukkan banyak peti besar ke markas mereka.”

“Peti-peti besar? Apa isinya?”

“Belum terindentifikasi, namun kami terus berusaha melacaknya.”
“Bagus, ada hal lain yang ingin engkau laporkan?”

“Ada satu lagi. Di markas kucing rumahan terlihat Budi.”

“Budi….?” Kucing belang benar-benar terkejut mendengarnya, entah ekspresi apa yang terbayang di wajahnya. Sedih, geram, dan gembira bercampur menjadi satu, membuat raut wajahnya kelihatan benar-benar aneh.

“Paman, ada apa dengan Budi? Mengapa engkau kelihatan terkejut?” tanya kucing putih yang  memang masih muda tadi.

“Kumbang Dua…!”

“Siap!”

“Lanjutkan penyelidikan!”

“Laksanakan.” Kabut asap menyelimuti kucing hitam, yang ternyata merupakan salah seekor anggota pasukan khusus kucing jalanan, dan kemudian menghilang bersama hilangnya kabut asap.

“Seluruhnya, lanjutkan latihan kalian. Aku akan menghadap Panglima Besar.”

“Siap, Laksanakan.”

Suara dencingan senjata-senjata yang beradu kembali terdengar. Kucing belang segera keluar ruangan, diikuti oleh kucing putih yang penasaran. Hatinya penuh dengan tanda tanya. Siapakah Budi yang dilaporkan oleh anggota pasukan khusus tadi? Ada hubungan apa antara Budi dengan Panglima Satu? Apakah Budi itu orang penting? Kawan atau lawan?


To be continued…

Balada Pendekar Kucing di Tengah Kota #3


Bismillahirrahmanirrahim…

Hugh..hugh…
Suara batuknya menghentikan langkahnya. Ia kecewa, karena murid kesayangannya sendiri telah mengkhianatinya. Rasa marah yang ditahan-tahannya, malah membuatnya jatuh sakit. Si Kucing Tua, seorang intrukstur pelatih pasukan khusus kucing jalanan, tampak begitu kepayahan.

“Sucouw (kakek guru)! Teccu (murid) datang menghadap.”

“Oh, engkau Budi! Aku baru saja ingin pergi ke tempatmu.”

“Apa gerangan sehingga sucouw memanggilku dengan kode rahasia?”

“Mari masuk ke dalam!”

“Tapi sucouw, kami dilarang masuk ke kediamanmu.”

Tapi si kucing tua itu telah mendahuluinya masuk ke dalam, Budi terpaksa mengikutinya dengan perasaan yang tidak nyaman.

“Budi, dahulu di tempat inilah para anggota pasukan khusus generasi pertama berlatih. Guru-gurumu dan juga ayahmu.”

“Ya sucouw, teccu tahu akan hal itu.”

“Semuanya berlatih dengan tekun, sehingga mereka menjadi kucing-kucing tertangguh di masanya. Di antara murid-muridku itu, ayahmu dan salah seorang paman gurumulah murid yang paling menonjol. Mereka berdua sangat kusayangi seperti anakku sendiri. Hingga tiba sa’at di mana aku melakukan kesalahan besar.” Si kucing tua terdiam sejenak.

Ia menghela nafas dan melanjutkan,”Budi, engkau tahu bagaimana ayahmu meninggal?”

“Teccu mendengar dari ibunda, ayah teccu meninggal disebabkan ia dihukum mati karena melanggar peraturan kamp pelatihan ini.”

“Apakah engkau tahu kesalahan ayahmu?”

“Ibunda tidak menceritakannya.”

“Ayahmu telah mencuri kitab pusaka kakek moyang aliran perguruanku.”

“Ah…” Budi tersentak terkejut.

“Dan tangan inilah yang melaksanakan hukuman tersebut.”

“Teccu mengerti.” Kata Budi dengan wajah tertunduk.

“Tapi sekarang aku menyesal, setelah aku mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Ayahmu bukanlah pencuri kitab tersebut. Paman gurumulah pencurinya. Aku….aku… telah salah tangan membunuh ayahmu.”

Kepala Budi semakin tertunduk, si kucing tua terbatuk-batuk seraya mengelus dadanya. Penyakitnya kambuh lagi.

“Budi, angkatlah kepalamu!”

“Ya, sucouw.” Air mata telah penuh membasahi wajahnya.

“Jika engkau merasa dendam kepadaku, bunuhlah aku sekarang!”

“Sucouw!!!”

“Aku merasa sangat bersalah kepada ayahmu.”

“Sucouw, ibunda selalu berkata kepada teccu agar tidak pernah mendendam kepada siapapun. Ibunda berkata dendam itu datangnya dari setan.”

“Ah, aku semakin merasa bersalah.”

Si kucing tua pergi menuju ke sebuah peti tua yang penuh dengan debu. Dia mengeluarkan sejilid buku tipis yang bersampul putih kekuning-kuningan, dan menyerahkannya kepada Budi.

“Budi, ini adalah kitab ilmu bela diri kucing ciptaan seorang master berabad-abad yang lalu. Bahkan aliran kita ini masih bersumber dari kitab ini. Aku tidak pernah mempelajarinya, dan hari ini aku serahkan kepadamu. Carilah paman gurumu itu! Tidak ada yang tahu siapa nama aslinya, tapi ia dijuluki dengan Kucing Tanpa Bayangan. Kudengar dia sekarang berada di negeri barat, melakukan banyak kejahatan yang membuatku gusar karenanya. Hugh… Hugh….” Si kucing tua terbatuk-batuk lagi, bahkan ia mulai muntah-muntah darah!”

“Sucouw….!”

“Aku tidak dapat bertahan lama, laksanakan perintahku ini! Pelajarilah kitab ini dan carilah si Kucing Tanpa Bayangan. Aku yakin engkau akan menguasainya dengan cepat.”

“Tapi teccu tidak pantas menerimanya.”

“Ini perintah!”

“Baiklah, Teccu siap melaksanakan perintah!”

“Sekarang keluarlah!”

Ia melangkah keluar kembali ke barak kamp pelatihan pasukan khusus, berpapasan dengan salah seorang pelatih yang sedang terburu-buru menuju kediaman si kucing tua. Budi terus memikirkan kata-kata si kucing tua, membuat air matanya tanpa terasa mengalir kembali. Tiba-tiba ia terkejut mendengarkan teriakan keras dari pelatih yang tadi barusan menuju kediaman si kucing tua.

“Tolong…! Guru besar meninggal…!”

Hanya sesa’at, di tempat itu telah ramai dipenuhi para penghuni kamp. Pelatih itu langsung menghardik Budi, “Apa yang engkau lakukan di sini tadi?”

“Aku…aku…aku dipanggil menghadap oleh sucouw.” Jawab Budi tergagap.

“Jangan-jangan, engkaulah yang membunuh guru besar!” tuduhnya terhadap Budi.

“Tidak….! Aku tidak melakukannya.”

“Jangan banyak alasan!”

Dia segera menyerang Budi tanpa ampun, diikuti oleh pelatih-pelatih lain dan seluruh penghuni kamp yang berada di situ.

Budi terpakasa mempertahankan dirinya . Di tengah kegalauan hatinya yang disebabkan cerita si kucing tua mengenai kematian ayahnya yang kemudian disusul dengan kematian si kucing tua itu sendiri, membuatnya mengamuk dan menjadi sangat berbahaya.

Akan tetapi Budi masih dapat menggunakan akal sehatnya, ia tahu jika ia terus mengamuk maka dia akan kalah juga. Ia kemudian membuka jalan dengan menyerang beberapa orang yang paling lemah dari mereka dan merubuhkannya. Setelah itu, tanpa membuang waktu sedetik pun Budi segera menggunakan jurus langkah seribu untuk meloloskan diri dari kepungan.

“Kejar dia! Jangan biarkan dia lolos!”

Tapi Budi telah melesat jauh, melewati pagar pembatas kamp dengan dunia luar. Menjadi seekor kucing pelarian yang dituduh membunuh guru besar. Dicari-cari oleh segenap anggota pasukan khusus untuk menuntut balas, kecuali seekor kucing. Dialah si kucing Ninja yang mengirimkan surat pernyataan perang kepada kucing rumah.

Dia yakin bahwa Budi tidak membunuh guru besar, ia telah mengenal Budi sejak kecil. Tapi keyakinan itu pudar, sejak ia melihat Budi ada bersama kucing-kucing rumah.

Dia tidak habis pikir, mengapa Budi dapat berada di tempat seperti itu…….?!


Bersambung....

Thursday, 8 April 2010

Balada Pendekar Kucing di Tengah Kota #2

Bismillahirrahmanirrahim,,

Sang Mentari sudah mulai menunjukkan sinar emasnya, tampak indah memukau mata. Sedikit demi sedikit menguak kabut-kabut tipis yang mengaburkan pandangan. Lalu lintas perkotaan mulai berjalan sebagaimana biasa. Di sana-sini orang melaksanakan aktifitasnya masing-masing. Ada yang bergegas menuju kantor, ada yang bersiap-siap berangkat ke sekolah, dan berbagai aktifitas lainnya. Bahkan, ada pula yang duduk nongkrong di warung kopi kota.

Di tengah kesibukan yang baru dimulai ini, seekor kucing putih bergaris-garis hitam berlari-lari di sepanjang trotoar jalan. Tidak ada yang istimewa dari kucing tersebut, kecuali ia tampak lebih tangkas dari kucing-kucing biasa.

Pada mulutnya tergigit sebuah gulungan kertas berwarna merah, tidak ada yang memperhatikan apa itu, karena orang-orang di sekitar itu mengira si kucing membawa sepotong daging. Gulungan kertas merah itu adalah surat pernyataan perang kucing jalanan terhadap kucing rumah. Dan tentu saja si kucing ini adalah utusannya.

Sesampainya di depan sebuah pagar rumah yang menjulang tinggi, si kucing berhenti. Dia mengamati keadaan sekelilingnya. Pagar yang tingginya tiga meter ini tidak dapat menutup betapa megahnya rumah yang ada di dalamnya. Tentu si empunya rumah adalah orang yang penting di kota ini.

“Wow, hebat! Menurut keterangan yang kuterima, di sinilah tempatnya. Tapi bagaimana caranya aku masuk?” pikir si kucing.

Sebenarnya kucing ini bukanlah kucing jalanan biasa, ia adalah salah satu anggota pasukan khusus kucing jalanan. Mereka dididik di bawah asuhan Pimpinan secara langsung. Salah satu keahlian pasukan ini adalah menyusup ke daerah pertahanan lawan tanpa ketahuan (Intelijen). Pada masa Tokugawa di Jepang, pasukan semacam ini disebut sebagai Ninja.

“Nah, itu dia!”

Di sudut pagar sebelah kiri, terdapat papan-papan yang disusun seperti rak. Kelihatannya, papan itu digunakan sebagai tempat menaruh pot bunga. Dengan cekatan si kucing Ninja ini memanjat sampai ke atas. Sesampainya di atas, ia melihat beberapa ekor kucing telah menghadangnya.

“Hebat! Ternyata perhitunganku keliru, mereka lebih hebat daripada yang kuduga.” Kata si kucing Ninja dalam hati.

“Who are you?” Tanya salah seekor kucing yang menjadi pemimpin kucing-kucing penjaga.

“Apa itu who are you? Oh, mungkin itu adalah sapaan.” Pikir si kucing Ninja.

“Terima kasih, saya membawa surat untuk pimpinan kalian.” Lanjutnya sambil memberikan surat yang dibawanya.

Kucing-kucing penjaga bingung, tapi kemudian salah seekor dari mereka membisikkan sesuatu kepada pemimpin mereka.

“Okay, come with me!” Pemimpin kucing penjaga member isyarat agar kucing Ninja mengikutinya.

Mereka meninggalkan tempat tersebut menuju halaman belakang. Seekor kucing Persia-Amerika besar sedang duduk santai di sana.

“My Lord, I found him when he tried to come in this house.”

“Who is he?”

“We don’t know, he speak by local language. But, I think he brings something for you.”

“What is it?”

“A letter.”

“Read it!”

“I can’t.”

“Why?”

“It was written by Indonesian too.”

“Call Budi to come here!”

“Yes, Sir.”

Salah seekor kucing penjaga segera berlari meninggalkan tempat itu, tidak lama berselang ia telah kembali dengan seekor kucing yang lain. Kucing yang datang belakangan ini adalah seekor kucing putih bersih, postur tubuhnya sangat mirip dengan si kucing Ninja.

“Budi!” teriak si Kucing Ninja.

Kucing itu terkejut melihat si kucing Ninja, tapi dia tidak menjawabnya. Ia telah lama tidak berjumpa dengan si kucing Ninja sudah berbulan-bulan yang lalu. Tepatnya sejak ia kabur dari kamp pelatihan pasukan khusus. (kisah ini akan diceritakan pada episode selanjutnya, Insya Allah).

“Here I am, my Lord.”

“Do you know him?”

“No, Sir.”

“Well, Can you read it?”

“Yes, Sir”

Budi menerima surat tersebut, ia pun terkejut untuk kedua kalinya tatkala membacanya sekilas. Isi surat tersebut adalah sebagai berikut :

“Dengan ini Kami para kucing jalanan menyatakan perang terhadap kalian.”

Hanya itu, singkat dan padat. Tidak dicantumkan alasan yang jelas mengapa mereka menyatakan perang. Memang demikian adanya, pemimpin kucing jalanan merasa tidak perlu mencantumkan alasannya.

“Hereby, We are the street cats declare war on the house cats.”

“What? Okay, if they want we give. Budi, say him that we accept they challenge!”

“Pimpinan kami berkata bahwa kami telah menerima surat pernyataan perang kalian. Engkau boleh pergi.”

“Baiklah.”

Sebenarnya kucing Ninja ingin bertanya pada kucing itu, tapi ia menahan dirinya. Ia segera pergi melaporkan kepada Pimpinan kucing jalanan.

To be continued. . .

Wednesday, 31 March 2010

Balada Pendekar Kucing di Tengah Kota #1

BIsmillahirrahmanirrahim,,

Di suatu malam yang dingin, hujan turun membasahi bumi. KIlat dan petir menyambar-nyambar, langit bergemuruh tiada henti-hentinya, seakan-akan langit menumpahkan amarah terhadap penduduk bumi. Tiada tampak seorang pun di kota kecil ini. Cuaca membuat orang-orang malas untuk keluar, mereka lebih suka menghangatkan tubuhnya di dalam rumah, berkumpul bersama keluarga, dan tidur.

Hal ini dimamfa’atkan oleh sekolompok kucing-kucing jalanan untuk mengadakan sebuah pertemuan, mereka berkumpul di sebuah rumah yang telah lama kosong. Tanpa menghiraukan dingin, satu persatu begerak ke rumah tersebut. Mereka yakin tidak ada manusia yang akan melihat mereka.

Semuanya telah berkumpul, mereka berdiri membentuk setengah lingkaran yang rapi. Seekor kucing besar berwarna kuning yang berada di hadapan mereka bertindak sebagai pemimpin. Perawakan kucing ini tampak sangat gagah, bulu yang tebal, cakar yang kuat, kumis yang panjang, dan gigi taringnya yang besar membuat kebiwaannya sebagai pemimpin kucing jalanan semakin terlihat.

Dengan lantang ia berkata,”Ketua Blok 1, laporkan keadaan!”

“Baik, kucing-kucing di blok 1 tidak pernah mengalami kelaparan. Hal ini disebabkan banyak manusia yang membuang sisa-sisa makan yang belum habis dimakannya. Bahkan ada seorang anak yang baru memakan sesuap nasi, karena tidak suka maka dia langsung membuangnya.”

“Apakah masih ada lebih?”

“Ada.”

“Bagikan kepada teman-teman di blok lain yang kekurangan makanan!”

“Siap, laksanakan.”

“Ketua Blok 2, laporkan keadaan!”

“Kucing-kucing di Blok 2 membutuhkan lebih banyak olahraga dan obat-obatan, mereka banyak yang sakit.”

“Departemen Kesehatan!”

“Siap!”

”Bagikan obat-obatan secara gratis ke Blok 2!”

“Siap dengan segera.”

“Departemen Pembangunan!”

“Siap!”

“Buatlah perencanaan pembangunan tempat olahraga di Blok 2!”
“Laksanakan.”

“Departemen Keuangan!”

“Siap!”

“Anggarkan dana untuk pembangunan ini!”

“Yes, sir.”

Keadaan kucing-kucing jalanan yang ada di kota dilaporkan kepada sang pemimpin, dan ia dengan bijak mengatasi segala permasalahan yang timbul. Sampai pada laporan terakhir yang akan dilaporkan oleh ketua kucing Blok 79.

“Kucing-kucing di Blok 79 sedang dalam keadaan gawat.”

“Gawat bagaimana?”

“Para manusia mulai suka memelihara kucing, sehingga kucing rumah semakin banyak. Tentu saja ini membuat kucing-kucing jalanan semakin payah. Selain itu, kucing-kucing rumah banyak yang menjelek-jelekkan kucing jalanan.”

“Apa? Apakah mereka benar-benar banyak?”

“Itu benar, kurang lebih mereka berjumlah 200 kucing.”

“Departemen Kemiliteran, berapa jumah pasukan kita?”

“500 kucing.”

“Bagus, segera siapkan pasukan! Kirimkan surat pernyataan perang kepada mereka!”

“Tapi…”

“Tiadak ada kata tetapi!”

“Siap , laksanakan.”

“Sidang ditutup!”

Kesokan harinya, seekor kucing diutus untuk menyampaikan suran pernyataan perang dari kucing jalanan kepada kucing rumah. Pemimpin kucing rumah yang ternyata berasal dari Amerika menerimanya, tapi dia tidak mengerti bahasa Indonesia. Sehingga harus dicarikan seorang penerjemah.

Siapakah penerjemah tersebut…?
Apakah kucing rumah juga akan menyatakan perang dengan kucing jalanan…?
Bagaimanakah kelanjutan ceritanya…?
Nantikan, episode selanjutnya dari Balada Pendekar Kucing di Tengah Kota.